Susi Jadi Menteri, Pamor Perempuan Bertato Happening
Sabtu, 01 November 2014 , 08:52:00
Susi Jadi Menteri, Pamor Perempuan Bertato Happening
Sejak Susi Pudjiastuti yang
diangkat sebagai menteri kelautan dan perikanan terlihat memiliki tato,
isu seni rajah tubuh pada perempuan menjadi begitu happening. Susi
tidak sendiri. Ada sejumlah perempuan lain yang juga menyukai tato. Dan,
mereka memiliki cerita di balik gambar yang dipilih.
Tato tak ubahnya perhiasan, menempel di
tubuh untuk memberikan aksen yang mengekspresikan kepribadian. Bedanya,
bila jewelry atau aksesori lain bisa dengan mudah dilepas, tato
selamanya melekat di tubuh.
Karena itu, keputusan merajah tubuh
sebenarnya bukan perkara sepele. Penasaran biasanya menjadi alasan saat
kali pertama merajah tubuh. Tapi, tato-tato selanjutnya biasanya dibuat
dengan tujuan dan makna-makna yang lebih dalam.
Pencinta tato yang tinggal di Bali, Dwi
Christy Siahaan, 32, misalnya. Tato pertamanya dibuat untuk memenuhi
rasa ingin tahu. ’’Kata orang, ditato itu sakit, tapi kok banyak banget
yang mau disakiti?’’ tanyanya retoris.
Setelah dicoba, memang rasanya sakit.
Padahal, dia hanya membuat tato hati berukuran kecil di punggung. Tapi,
seperti kata orang, tato itu bikin kecanduan. Tato lain menyusul
beberapa tahun kemudian setelah usianya semakin matang dan tahu jalan
hidupnya berada di jalur seni. ’’’Bertato tidak mengubah saya dan
kemampuan saya. Isi kepala kita nggak bakal berubah hanya karena membuat
kulit kita berhias,’’ ungkap perempuan yang berprofesi sebagai desainer
grafis itu.
Christy punya rentetan tato yang menjadi
pengingat perjalanan hidupnya. Perempuan kelahiran Surabaya itu sempat
dua kali mengalami kegagalan rumah tangga. ’’Saya mikir apa sih maunya
hidup ini. Tapi, setelah melaluinya, saya merasa jadi lebih dewasa,’’
jelas ibu dua anak tersebut.
Saat itulah dirinya membuat tato
bergambar tengkorak dan di bawahnya bertulis Life is indeed A Game.
Hidup ini tak lebih dari sebuah permainan hingga mati. ’’Jadi jalani
aja, jangan terlalu lebay, galau, menyesali diri,’’ jelasnya.
Menyusul kemudian Christy mengguratkan
tulisan En Nombre De Dios (dalam nama Tuhan). ’’Ya, meski hidup cuma
permainan aja, serahkan permainan ini dalam Tuhan,’’ imbuhnya.
Setiap melihat rentetan tato itu,
Christy sedikit banyak merasa diingatkan. Kini dia kembali rujuk bersama
suami pertamanya. Tato lain yang penting, dia memasang foto anaknya di
lengan.
Emosi yang sama dirasakan Natasha Oen
terhadap tato. Perempuan yang berprofesi sebagai model catwalk ini punya
tato bergambar kupu-kupu di belakang leher dan pinggangnya. ’’Saya suka
kupu-kupu soalnya cantik. Lagi pula, ini seperti menggambarkan saya
yang bermetamorfosis. Dari ulat yang jelek, jadi sesuatu yang lebih
baik,’’ ungkapnya.
Dulu, Natasha tomboi. Hobinya saat kecil
adalah mengejar layang-layang. ’’Jalan saja kayak cowok banget. Ayah
sampai prihatin dan akhirnya nyuruh belajar modeling. Ternyata itu
mengubah saya,’’ jelas ibu dua anak tersebut.
Bagi Natasha, tato adalah simbol masa
mudanya yang penuh rasa ingin tahu dan sedang mencari jati diri. ’’Jujur
aja, dulu orang lihat tatoku takjub. Mereka bilang keren. Tapi, kalau
sekarang makin berumur, malah ditanyain nggak pengin hapus tato?’’
ungkapnya.
Mengoleksi tato bermakna juga dilakukan
Nadya Natassya, 28. Perempuan yang merajah tubuhnya sejak lulus SMA itu
punya lima tato. Letaknya kaki sebelah kiri, tangan full sebelah kiri,
dan punggung. Nadya sengaja menaruh tato di sebelah kiri agar tetap bisa
melihat bagian tubuh yang masih bersih, yaitu bagian kanan. ’’Paling
favorit ya tato pertama. Gambarnya clover. Buatku artinya bring me
luck,’’ tuturnya.
Menurut Anneke Fitrianti, tattoo artist
asal Jogjakarta, begitulah seharusnya ketika seseorang membuat tato.
’’Siapa pun yang ingin tato harus sadar dan paham dengan yang dia
inginkan,’’ kata tattoo artist yang berusaha selalu memperhatikan
kondisi psikologis kliennya tersebut.
Anneke tak mau menerima klien yang
membuat tato dalam keadaan mabuk, di bawah pengaruh obat-obatan, di
bawah 18 tahun, dan sedang hamil. Bahkan, klien yang iseng-iseng pun tak
jarang ditolaknya. Iseng yang dimaksud adalah si klien datang tanpa
tujuan ingin ditato bergambar atau bertulis apa.
’’Tipe begini nggak saya layani. Saya
nggak mau risiko dia nggak suka tatonya dan pengin revisi. Jadi, aku
suruh pulang dan boleh balik 2–3 hari kalau masih pengin tato,’’
paparnya.
Bila ingin membuat tato, menurut Anneke,
usahakan ada artinya. Tato yang dibuat tanpa makna akan cepat membuat
bosan pemiliknya. ’’Nggak jarang tato mereka minta ditimpa gambar lain
atau diwarna lain. Akan jadi semakin jelek,’’ ungkapnya.
Ditanya mengenai tanggapan orang kepada
perempuan bertato, dirinya tidak terlalu memikirkan. Pandangan miring
datang dari stigma dan itu bisa diubah jika pemilik tato menunjukkan
sikap yang baik-baik saja. ’’Jangan mengucilkan diri. Membaurlah seperti
biasa saja. Bertato bukan alien. Jadi santai saja,’’ saran Anneke.
Dia percaya, ketika seseorang bersikap
baik dan ramah kepada orang lain, tidak jadi masalah apakah bertato atau
tidak. ’’Sama tetangga akrab, nggak bakal terjadi apa-apa. Saya sih
beraktivitas seperti biasa. Antar jemput anak. Berinteraksi dengan
sekitar,’’ papar perempuan yang koleksi tatonya bisa ditilik di akun
Instagram @annekefitrianti itu. (puz/cik/c17/nda)
sumber : jpnn.com
Sabtu, 01 November 2014 , 08:52:00
Label: Info State thee, Serba Serbi, State thee Info


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda