Israel Lancarkan Operasi Penghancuran Rumah
JERUSALEM - Israel
membuktikan ancamannya untuk membalas serangan maut di sinagoge Har Nof
Selasa pagi (18/11). Sehari setelah aksi keji yang merenggut lima nyawa
-satu lagi tewas di rumah sakit- itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF)
merazia Jerusalem Timur.
Kemarin (19/11) IDF merusak rumah salah
seorang warga. Meski penyelidikan masih berlangsung, Perdana Menteri
(PM) Benjamin Netanyahu yakin dua pemuda yang menyerang umat Yahudi di
sinagoge itu berasal dari Palestina. Dia juga yakin para petinggi
Palestina yang memprovokasi warganya untuk menyerang Israel. Karena itu,
dia berjanji melancarkan serangan balasan berskala lebih besar.
Menjelang fajar kemarin, aparat Israel
menghancurkan rumah salah seorang warga Palestina yang ditengarai pelaku
serangan. “Saya telah memerintahkan penghancuran rumah penduduk
Palestina yang melakukan pembantaian keji di sinagoge tersebut,” kata
Netanyahu.
Dia juga memerintahkan percepatan
pemusnahan rumah para pelaku serangan sebelumnya. Belakangan intensitas
serangan di Israel memang meningkat.
Netanyahu menyatakan, serangan-serangan
itu dilakukan warga Palestina. Sebab, Israel tetap nekat menerbitkan
izin pembangunan ratusan unit rumah baru di permukiman Jerusalem Timur.
Padahal, wilayah tersebut masih menjadi sengketa Israel dan Palestina.
Sebelum insiden maut di sinagoge Har Nof,
seorang pemuda Palestina sengaja menabrakkan mobilnya ke arah kerumunan
massa. Akibatnya, seorang perempuan muda Israel dan seorang bayi tewas
seketika.
Kemarin IDF membalas insiden yang terjadi
pada 22 Oktober lalu itu. Mereka merusak apartemen milik keluarga
Abdelrahman Shaludi di kawasan Silwan.
Shaludi adalah penabrak di wilayah
Jerusalem Timur tersebut. Dia tertembak saat berusaha melarikan diri
dari lokasi kejadian. Akibat luka tembak itu, dia kini terbaring koma di
rumah sakit.
Kemarin tempat tinggal Shaludi lenyap
tanpa sisa. Dinding bagian luar dan dalam apartemen yang terletak di
lantai tiga tersebut runtuh. Rumah Shaludi dan keluarganya pun rata
dengan lantai.
Bagi IDF, operasi penghancuran rumah bukan
misi baru. Selama bertahun-tahun, mereka menggunakan strategi itu di
tepi barat sebagai hukuman. Tetapi, kebijakan tersebut terhenti pada
2005 setelah IDF menganggap strategi itu tidak efektif untuk membuat
Palestina berhenti menyerang Israel. Sebaliknya, penghancuran rumah itu
justru meningkatkan intensitas serangan.
Namun, Netanyahu mengaktifkan kembali
kebijakan kontroversial tersebut pada 6 November lalu. Tepatnya setelah
lagi-lagi serangan tabrak lari oleh warga Palestina yang menewaskan dua
penduduk Israel. “Ini (penghancuran rumah) kami terapkan lagi untuk
menjadikan kawasan Jerusalem aman terkendali,” jelas pemimpin yang akrab
disapa Bibi tersebut.Label: militer


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda