Kartu Sakti Jokowi, Margarito: Urus RT Saja tak Begini Amburadulnya
JAKARTA - Pemerintahan
Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) diingatkan bahwa persoalan internal
mereka harus diselesaikan lebih dulu agar kinerja pemerintahan ini tidak
lebih buruk dari kinerja pengurus di level rukun tetangga atau RT.
Seruanl itu berkaca pada simpang siur
penjelasan tentang asal dana Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu
Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
"Mensesneg Pratikno bilang ini CSR,
Jokowi bilang tanya saja ke kementerian keuangan, lalu JK bilang ini
dari APBN. Ini mengurus negara kok begini? Mengurus RT saja tidak begini
amburadulnya," tegas ahli tata negara, Margarito Kamis saat diwawancara
RMOL (Grup JPNN.com), Sabtu pagi (8/11).
Dia heran mengapa orang-orang yang
lingkungan kerjanya paling dekat dengan presiden malah mengeluarkan
pernyataan berbeda dalam kebijakan yang sangat strategis.
Dia juga meminta pemerintah lebih jernih
menjelaskan soal anggaran kartu sakti. Kalau benar anggaran ini
menggunakan APBN 2014, pemerintah harus menunjukkan nomenklatur APBN
tentang KIP, KIS dan KKS.
"Tunjukkan kepada kita nomenklaturnya di
APBN. Kalau katakanlah ini mengubah program yang mengubah program lama,
tunjukkan kepada kita Keppres perubahan pelaksanaan APBN. Mana barang
itu? Tunjukkan kepada kita ada di rencana kerja dan anggaran kementerian
mana?" ucap doktor hukum asal Ternate ini.
Dia ingatkan Presiden Jokowi bahwa di
dalam pemerintahannya sendiri terjadi komunikasi yang amburadul.
Walaupun program tiga kartu itu cukup baik, tetapi cara
merealisasikannya harus baik pula.
"Ini barang bagus, orang akan dukung.
Tapi ini kita hidup bernegara. Tidak bisa kita malamnya mimpi gagasan
bagus, terus paginya kita langsung jalankan itu gagasan," ujar mantan
staf khusus Menteri Sekretaris Negara ini.
"Saya menganggap ini niat baiknya Beliau (presiden) membantu orang miskin dan susah. Baguslah. Niat baiknya bagus, tapi caranya 1000 persen salah. Harus dibenahi," tambahnya
"Saya menganggap ini niat baiknya Beliau (presiden) membantu orang miskin dan susah. Baguslah. Niat baiknya bagus, tapi caranya 1000 persen salah. Harus dibenahi," tambahnya
Margarito pun meminta para anggota
Kabinet Kerja memberikan nasihat yang benar kepada Presiden Jokowi.
Bukannya melakukan nasihat blunder yang merugikan presiden.
"Tugas pembantu itu memberi pikiran baik kepada bosnya," ucap MargaritoLabel: economic


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda